Kilas Balik: Festival Film Indonesia dari Masa ke Masa




Wim Umboh sebagai Sutradara Terbaik pada FFI 1973

Oleh: Julita Pratiwi
22 September 2017

Festival Film Indonesia (FFI) merupakan ajang penghargaan tertinggi bagi dunia perfilman di Indonesia. Pada masa awal kemunculannya, festival ini disebut Pekan Apresiasi Film Nasional. Sepanjang sejarah, festival ini kerap timbul nan tenggelam terhitung sejak awal penyelenggaraannya pada tahun 1955, kemudian berlanjut pada tahun 1960 dan 1967.

Festival ini mulai menjadi penyelenggaraan rutin pasca 1973, dengan nama Festival Film Indonesia. Dapat dikatakan untuk pertama kalinya dalam sejarah, FFI menjadi ajang yang mampu diadakan tiap tahunnya tanpa terputus, 19 tahun terhitung dari 1973 hingga 1992. Akhirnya pada 2004 menjadi tahun di mana FFI lahir dalam semangat pasca reformasi.

Pra-FFI: Sebuah Periode Awal

Tidak sedikit pihak yang mendebatkan perihal penamaan penghargaan ini. Ketika nama festival tersebut masih Pekan Apresiasi Film Nasional, ada yang beranggapan bahwa itu bukanlah Festival Film Indonesia. Namun, ada pula yang beranggapan bahwa bukan perkara nama tetapi agenda yang sama yang ditawarkan oleh festival-festival ini. Meskipun namanya Pekan Apresiasi Film Nasional, namun inilah yang menjadi fondasi dasar bagi FFI untuk ke depannya. Sehingga, periode ini sering disebut dengan istilah pra-FFI.

Bila menelaah berdasarkan pencetusnya, Pekan Apresiasi Film Nasional lahir atas inisiatif seorang produser film Indonesia awal, yakni Djamaludin Malik. Ia meyakini festival film tersebut sebagai bagian dari peristiwa budaya. Selain itu, adanya upaya untuk menjadikan festival ini sebagai perhelatan yang mampu mengevaluasi film produksi dalam negeri selama setahun. Tentunya festival ini menjadi forum pertemuan antara pembuat dan penonton film, serta forum penilaian mengenai kualitas teknis penggarapan serta penyajian atas karya film.

Penyelenggara festival film tahun 1955 terkesan hanya sekadar bagi-bagi piala. Bila melihat dari kategori penghargaannya tercatat terdapat enam kategori, yakni: sutradara terbaik, film terbaik, aktor utama terbaik, aktris utama terbaik, aktor pembantu terbaik, serta aktris pembantu terbaik. Ketika itu film terbaik jatuh pada Lewat Djam Malam karya Usmar Ismail. Lantas untuk kategori sutradara terbaik jatuh kepada Lilik Sudjio (Tarmina).

Terdapat kesan "bagi-bagi piala" pada gelaran pertama festival film ini. Kesan seperti ini berlanjut pada penyelanggaraannya yang kedua, yakni pada tahun 1960. Kebijakan bagi-bagi piala sempat menjadi polemik untuk beberapa kalangan orang film, walaupun di satu sisi hal ini dianggap sah-sah saja, karena pelaksanaan dan pendanaan festival film itu sepenuhnya dari dana personal seorang Djamaluddin Malik.

Usai 1955, selama lima tahun berikutnya tidak ada lagi gaung dari festival tersebut. Kevakuman ini sering dikaitkan dengan sistem Demokrasi Terpimpin yang membuat kondisi politik maupun perekonomian negara menjadi tidak stabil. Sehingga, tidak ada keyakinan yang kuat untuk mengeksekusikan festival ini menjadi agenda tahunan. Barulah pada 1960, festival ini hadir kembali di Jakarta pada 21-25 Februari. Kala itu, Turang karya Bachtiar Siagian mendapat penghargaan film dan sutradara terbaik.

Setelah mengalami kevakuman selama tujuh tahun akibat kondisi politik dan pertahanan negara yang mulai genting, barulah festival ini dapat dihadirkan kembali pada 1967. Pekan Apresiasi Film Nasional diadakan di Jakarta pada 9-16 Agustus, Penghargaan sutradara terbaik diberikan kepada Misbach Y. Biran untuk karyanya Dibalik Tjahaya Gemerlapan. Pemeran utama pria terbaik diberikan kepada Sukarno M. Noor. Sedangkan pemeran utama wanita terbaik diberikan kepada Mieke Wijaya atas perannya dalam film Gadis Kerudung Putih.

FFI: Periode Pertengahan dan Upaya Perubahan

Setelah melalui kevakuman kembali pasca 1967, masyarakat film yang tergabung ke dalam Yayasan Nasional Film Indonesia (YFI) merasa perlu ada festival film yang mampu hadir secara konsisten tiap tahunnya. YFI mendapat dukungan dari Departemen Penerangan (Deppen), yang mana departemen ini berperan sebagai pembina perfilman nasional pada masa itu. Sebagai keberlanjutan dari Pekan Apresiasi Film Nasional, YFI pun menindaklanjutinya dengan sebutan Festival Film Indonesia (FFI) pada tahun 1973. Inilah yang menjadi titik awal FFI menjadi suatu ajang tahunan penghargaan film terbesar yang dimiliki oleh masyarakat film Indonesia.

Terdapat sejumlah tawaran sistem dari panitia pelaksana saat itu yang cukup mempengaruhi keberlangsungan sistem festival film secara keseluruhan di Indonesia. Di antaranya adalah:

  1. Kemunculan sistem nominasi
  2. Kategori Nominasi dan Piala Citra
  3. Penyelenggaraan di berbagai kota di Indonesia

Sistem Unggulan atau sistem nominasi untuk pertama kalinya diterapkan di FFI pada tahun 1979.

FFI dengan penghargaan yang bernama Piala Citra (atas persetujuan Presiden Soeharto) merupakan penghargaan film yang cukup lengkap ketika itu. Sebabnya FFI menilai segala aspek teknis film bioskop, film pendek, film dokumenter, kritik film, hingga film-film non cerita.

Selain Piala Citra untuk film bioskop dengan aspek-aspek teknisnya, diberikan pula piala-piala lainnya. Untuk poster terbaik, diberikan piala bernama Piala S. Toetoer. Untuk lagu tema diberikan Piala Ismail Marzuki. Sementara untuk kritik film diberikan Piala Chaidir Rachman. Sedangkan film terlaris diberikan Piala Antemas. Selain itu, untuk film yang diproduksi dalam negeri diberikan Piala Njoo Han Siang. Serta Piala Kartini untuk pemeran anak-anak.

Pada periode ini penyelanggaraan FFI mulai diadakan di berbagai kota di tanah air. Semenjak dekade 1980-an, FFI tercatat telah diadakan di Medan, D.I. Yogyakarta, Bandung, Denpasar, dan Jakarta. Pada periode ini terdapat upaya untuk mendekatkan diri antara masyarakat film dan penonton daerah yang jauh lebih luas.

FFI: Pasca Reformasi

Setelah 19 tahun berjaya, FFI kembali terhenti pada 1993. Hal ini tentunya karena produksi film Indonesia yang terus merosot jumlahnya dan penurunan kualitas produksi. Alhasil, FFI kembali mengalami kevakuman selama 12 tahun lamanya.

Hingga pada era 2000-an, perfilman kembali digairahkan dengan munculnya para sineas muda. Sehingga, membuat FFI kembali diadakan di tahun 2004. Para insan film pun menyambut dengan antusias karena FFI tetap selalu dirindukan. Walaupun sempat mengalami masalah di tahun FFI 2006, masyarakat dan sineas tetap menganggap FFI sebagai ajang penghargaan film paling prestisius di tanah air.

Kabar Terkait

Card image cap

Sistem Baru FFI 2017 Menjadi Fondasi untuk FFI Selanjutnya

Festival Film Indonesia (FFI) 2017 merancang sistem baru guna mendorong peningkatan kualitas film Indonesia untuk jangka panjang.

Selengkapnya
Card image cap

Manado Jadi Lokasi Malam Puncak FFI 2017

Manado dipilih sebagai penyelenggara malam puncak Festival Film Indonesia (FFI) 2017 pada 11 November 2017.

Selengkapnya
Card image cap

Memaksimalkan Asosiasi Profesi untuk FFI yang Inklusif

Untuk memaksimalkan proses penilaian dan penyelenggaraan, Festival Film Indonesia (FFI) 2017 memberlakukan sistem baru.

Selengkapnya