Visi Penjurian FFI 2017: Legitimasi sebagai Pencapaian Tertinggi Film Indonesia




Riri Riza sebagai Ketua Penjurian dengan Leni Lolang

Oleh: Narariya Lintang
1 Oktober 2017

Sebagai ajang penganugerahan insan film paling legendaris di Indonesia, Festival Film Indonesia (FFI) 2017 berupaya memperkuat legitimasi sebagai pencapaian tertinggi film Indonesia. Gagasan pertama untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan memperbaiki kualitas penjurian film nominasi. Kedua adalah gagasan penguatan kelembagaan yang melibatkan peran aktif asosiasi dan komunitas dalam penjurian.

Ketua Bidang Penjurian FFI 2017 Riri Riza mengungkapkan bahwa terdapat 3 poin penting dalam penjurian, yakni gagasan, kualitas teknis dan estetika, serta profesionalisme. Riri menganggap bahwa ketiga poin tersebut sudah cukup lengkap dan utuh untuk disebut sebagai film yang berkualitas. "Pertama, kita ingin promosikan film-film Indonesia yang punya gagasan jelas, jernih dan kontekstual. Kedua, kita ingin film yang punya pencapaian teknis dan estetika yang tinggi. Terakhir, tentu saja kita ingin film-film tersebut mencerminkan profesionalisme pihak yang terlibat dalam pembuatannya," ungkap Riri.

Selain dari segi film, gagasan mencapai legitimasi penghargaan tertinggi juga dilakukan dengan penguatan kelembagaan. Riri menyebutkan bahwa cara ini ditempuh melalui pelibatan asosiasi profesi sebagai lembaga aktif yang mencalonkan film-film nominasi FFI. "Kami berharap akan muncul dua hal positif. Pertama asosiasinya akan semakin kuat karena punya semacam tanggung jawab untuk meningkatkan karyanya menjadi lebih baik. Mulai dari gagasan, hasil teknis hingga profesionalismenya. Semua anggota didorong untuk menghasilkan film yang lebih baik, supaya tercapai film-film yang dicalonkan menjadi nominator FFI. Yang kedua, kita berharap semua menjadi ekosistem yang saling bergantung dan berkait," tambahnya kemudian.

Pernyataan Riri diperkuat oleh Totot Indrarto, Wakil Ketua Panitia FFI 2017. Totot mengatakan bahwa dalam sistem baru ini penetapan nominasi sepenuhnya diserahkan kepada asosiasi profesi dan komunitas. Juri yang akan memilih pemenang Piala Citra juga ditentukan oleh masing-masing asosiasi dan komunitas. "Visi dan kriteria penilaian yang telah ditetapkan akan membuat asosiasi dan komunitas menetapkan tolok ukur pencapaian tertinggi bagi film dan kerja kreatif itu sendiri," ujar Totot.

Kabar Terkait

Card image cap

Sistem Baru FFI 2017 Menjadi Fondasi untuk FFI Selanjutnya

Festival Film Indonesia (FFI) 2017 merancang sistem baru guna mendorong peningkatan kualitas film Indonesia untuk jangka panjang.

Selengkapnya
Card image cap

Transisi FFI Jadi Lembaga Mandiri, BPI Masih Jadi Penyelenggara Utama FFI 2017

Festival Film Indonesia (FFI) 2017 hadir dengan melibatkan unsur-unsur perfilman seperti asosiasi profesi, penyelenggara festival di daerah, dan komunitas perfilman ke dalam kepanitiaan.

Selengkapnya
Card image cap

Tidak Adanya Komite Seleksi dalam Penjurian FFI 2017

Penjurian dengan sistem komite seleksi telah lama menjadi mode penjurian yang begitu melekat sepanjang sejarah Festival Film Indonesia (FFI).

Selengkapnya

A PHP Error was encountered

Severity: Core Warning

Message: Module 'memcached' already loaded

Filename: Unknown

Line Number: 0

Backtrace: