Penjurian FFI 2017: Setiap Asosiasi Punya Acuan Penilaian




Suasana penjurian

Oleh: Yulaika Ramadhani
16 Oktober 2017

Festival Film Indonesia (FFI) tahun ini turut melibatkan asosiasi dalam menentukan pemenang dan nominasi. Penentuannya pun dipertimbangkan berdasarkan keahlian bidang masing-masing asosiasi tersebut.

Asosiasi sendiri merupakan gabungan dari berbagai pihak perfilman, yaitu dari sutradara, penulis skenario, aktor, artis, penata artistik, sinematografi, sampai dengan editor. Beragamnya profesi tersebut diharapkan dapat memberi kelengkapan sudut pandang dalam segi penilaian.

Mouly Surya, sutradara film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak, menyatakan bahwa dalam melakukan penilaian ia lebih melihat bagaimana sutradara film tersebut bercerita dari bagaimana ia merangkai adegan. "Paling penting bagaimana dia meng-conduct opening. Sepuluh menit pertama itu bagian paling penting. Sepuluh menit pertama dia harus menjelaskan siapa pemeran utamanya, film ini tentang apa, bagaimana tone filmnya sampai itu berakhir. Kemudian penilaian selanjutnya kita bisa melihat konsistensi apakah film itu tetap konsisten dari opening sampai akhir," terang Mouly.

Berbeda dengan Mouly, Salman Aristo yang selama ini bergiat sebagai penulis naskah lebih melihat bagaimana sebuah struktur skenario diolah. "Strukturnya beres atau tidak, imbang atau tidak, adakah yang baru yang ditawarkan, adakah kejutan. Yang kedua adalah melihat perkembangan karakter tumbuh di dalam ceritanya," jelas Salman.

Dari perspektif pemain sendiri, Verdy Solaiman menyatakan bahwa performa seorang pemain film  dapat diperhatikan melalui transformasinya, mulai dari siapa dirinya, sampai seberapa paham fungsi seorang pemain film dalam film tersebut. Aktris senior Jajang C. Noer menambahkan bahwa perlu untuk memperhatikan keseluruhan akting, tidak hanya karena impresi subyektif. "Kita harus lihat apakah pemainnya cocok dengan karakter tersebut," kata Jajang C. Noer.

Abduh Aziz, salah satu produser film Indonesia menilai bahwa sudah sebaiknya ada semacam keleluasan untuk membiarkan penilaian dari berbagai perspektif untuk memberikan harapan kepada film seperti apa yang dianggap baik. Abduh Aziz menilai bahwa tahun ini akan menjadi acuan untuk FFI ke depannya. "Ada harapan untuk membuat FFI sebagai sebuah pernyataan bersama yang bermakna, harusnya menjadi spirit bersama," tutup Abduh Aziz.

Kabar Terkait

Card image cap

Tidak Adanya Komite Seleksi dalam Penjurian FFI 2017

Penjurian dengan sistem komite seleksi telah lama menjadi mode penjurian yang begitu melekat sepanjang sejarah Festival Film Indonesia (FFI).

Selengkapnya
Card image cap

Sistem Baru FFI 2017 Menjadi Fondasi untuk FFI Selanjutnya

Festival Film Indonesia (FFI) 2017 merancang sistem baru guna mendorong peningkatan kualitas film Indonesia untuk jangka panjang.

Selengkapnya
Card image cap

Mulai 2017, FFI Buat Kepanitiaan Tetap dan Pedoman Penyelenggaraan Festival

Kepanitiaan tetap dan pedoman-pedoman seputar penyelenggaraan Festival Film Indonesia (FFI) sudah resmi dibuat dan berlaku selama 3 tahun.

Selengkapnya