Pembaruan dan Peragaman FFI 2017




Adegan film Posesif (dok. Palari Films)

Oleh: Abdillah M Marzuqi untuk Media Indonesia
16 Oktober 2017

(Media Indonesia) Seorang pemikir Yunani Herakleitos (540 SM) pernah berucap panta rhei kai uden menei 'semuanya mengalir dan tidak ada sesuatu pun yang tinggal tetap'.

Perubahan ialah suatu yang tak terelakkan, tak terpungkiri, dan pasti adanya. Jika ingin bertahan, haruslah melakukan pembaruan dan penyesuaian. Itulah yang terjadi di Festival Film Indonesia (FFI) 2017.

Beberapa pembaruan itu, antara lain dalam hal sistem penjurian dan penambahan nominasi untuk tata rias terbaik.

Tinggal menghitung minggu, gelaran tertinggi perfilman Indonenesia itu bakal bakal digelar di Manado, Sulawesi Utara, pada 11 November 2017.

Menoleh sejenak kebelakang, FFI diadakan pertama kali pada 1955, berlanjut pada 1960 dan 1967 dengan nama Pekan Apresiasi Film Nasional (PAFN). Namun, baru diselenggarakan secara teratur pada 1973. Pada penyelenggaraan 1979 mulailah menggunakan sistem unggulan atau nominasi. FFI sempat terhenti pada tahun 1992 dan baru diselenggarakan kembali 2004.

Meski berusia tua, bukan tidak mungkin gaung FFI akan disalip dan dibanyangi oleh ajang penghargaan film yang muncul belakangan. Untuk itulah FFI terus berupaya menguatkan keberadaannya sebagai tolok ukur pencapaian tertinggi perfilman nasional.

Pencapaian itu ditinjau dari aspek estetika, teknis, tema, dan pernyataan film yang diproduksi. Rancangan baru itu ternyata juga mengundang sejumlah dinamika di ranah pemerhati film. Sebut saja polemik tentang film Posesif dan logo FFI 2017.

Pertama, dianggap belum bisa masuk nominasi sebab belum diputar di bioskop. FFI 2017 memang punya aturan baru soal status rilis film cerita panjang yang akan dinilai. Film tidak harus diputar di jaringan bioskop besar.

"Kalau dulu kita sebutnya film bioskop, kalau sekarang kita sebut film cerita panjang. Karena meskipun dia belum tayang bioskop, tapi dia juga punya hak untuk direkomendasikan," terang Leni Lolang saat berkunjung ke kantor Media Group Selasa (10/10).

Film Posesif, menurut Leni yang didampingi Media Relations FFI 2017 Amin Sabhana dan Ketua Bidang Humas Agung Sentausa, telah beberapa kali ditayangkan di publik, meski bukan bioskop arus utama. Film itu telah diputar di tiga tempat pemutaran khusus, yakni Kineforum, Kinosaurus, dan Cine Space. Sementara surat tanda lulus sensor (STLS)-nya baru didapat 6 Oktober dari Lembaga Sensor Film (LSF) meski telah diurus sejak beberapa bulan lalu.

"Kita berusaha untuk mereduksi tempat penayangan. Tidak hanya bioskop, tapi juga tempat penayangan alternatif," tambah Agung.

Masalah kedua, terkait logo FFI yang dianggap mirip dengan Tribeca Film Festival (TFF) di New York. Ada satu garis panjang pengganti huruf I yang melintas vertikal.

"Kita tidak menutup menutup kemungkinan adanya kesamaan ide, tetapi ya sudahlah kita ubah lagi," terang Leni.

Baca selengkapnya

Kabar Terkait

Card image cap

Proses Penjurian FFI Dilakukan dengan Sistem yang Terawasi

Jakarta, Kemendikbud - Festival Film Indonesia (FFI) 2017 akan digelar Sabtu (11/11) malam ini.

Selengkapnya
Card image cap

FFI 2017 Usung Tema Keragaman

Festival Film Indonesia (FFI) 2017 mengusung tema keragaman Indonesia.

Selengkapnya
Card image cap

Penjurian FFI 2017: Setiap Asosiasi Punya Acuan Penilaian

Festival Film Indonesia (FFI) tahun ini turut melibatkan asosiasi dalam menentukan pemenang dan nominasi.

Selengkapnya