Catatan Juri Nominasi FFI 2021 - Film Cerita Pendek
12 Nov 2021

Catatan Juri Nominasi FFI 2021 - Film Cerita Pendek

Sudah lebih dari satu setengah tahun pandemi berlangsung. Dunia berubah, demikian pula dengan dunia sinema. Pandemi hadir sebagai keterbatasan, sekaligus pula tantangan dan kesempatan untuk “berkenalan” ulang dengan kehidupan. Berhadapan dengan keadaan, manusia beradaptasi dan menyiasati, tidak terkecuali dalam berkarya.

Festival Film Indonesia pun merespon dan berupaya terlibat aktif dalam periode transisi ini, salah satunya dengan membuka pendaftaran bagi kategori film cerita pendek. Pilihan yang diambil oleh penyelenggara Festival Film Indonesia 2021 ini secara tidak langsung memperlihatkan kesadaran khas dunia layar (screen) dan virtualitas, yang salah satunya adalah robohnya batas-batas. Ketika jauh-dekatnya jarak fisik tidak terlampau penting dalam dunia internet, film bisa dikirim dari mana pun, dan keragaman lebih dimungkinkan―termasuk dengan tidak lagi hanya berkutat di kota-kota besar saja―. Jumlah 386 film yang didaftarkan melalui situs FFI ―ditambah 23 film rekomendasi festival―serta berasal dari berbagai penjuru negeri menunjukkan bagaimana pandemi tidak menyurutkan semangat berkarya. Bahkan sangat mungkin, pandemi adalah “bahan baku” bercerita yang istimewa. film cerita pendek menjadi medium yang memungkinkan (dan dipercayakan) banyak orang untuk “bersuara” dan membagikan interpretasinya tentang dunia. Sekalipun ruang-ruang pemutaran fisik tidak beroperasi, dengan “cekatan” dan cair, film-film cerita pendek ini lahir dan hadir.

Kesadaran mengenai teknologi (dan medium) secara tersurat maupun tersirat termaktub dalam film-film cerita pendek ini. Kondisi ini tentu gamblang lantaran kondisi pandemi menempatkan perangkat teknologi mutakhir menjadi semacam keniscayaan. Berkembang dari situasi awal pandemi, film-film cerita pendek ini menunjukkan hubungan yang lebih “mesra” dengan teknologi dan virtualitas. Hal ini sedikit banyak mempengaruhi film-film cerita pendek ini sehingga kebaruan dan terobosan kian dimungkinkan. Misalnya, dengan merangseknya bingkai-bingkai layar ke dalam kisah dan cara penceritaan.

Perkara kemanusiaan, termasuk aneka permasalahan sosial dan pandemi, di satu pihak adalah sesuatu yang universal, global. Namun di saat bersamaan, setiap ruang memiliki kekhasan: konteks menjadi sesuatu yang penting dan tidak boleh dilupakan. Sekalipun dunia layar dan virtual yang mendominasi pandemi menunjukkan karakter menihilkan perbedaan ruang-waktu, tetapi dalam kehidupan konkret keseharian yang terjadi sebaliknya: setiap ruang memiliki problematika yang khas. Berbagai kisah yang ditampilkan film-film yang masuk ke FFI secara piawai menunjukkan kesadaran “lokalitas” itu. Bahkan ruang domestik misalnya―meski dalam situasi terisolasi―adalah juga medan ketegangan kelindan aneka persoalan.

Bermacam konteks geografis, sosial, politik menjadi warna keragaman. Para sineas berupaya memaknai kehidupan, menunjukkan empati dan keberpihakannya, sekaligus dengan cerdik mengkritisinya. Suatu tendensi yang memperlihatkan kepekaan dan kecermatan dalam menafsirkan dan mengolah lika-liku persoalan keseharian, termasuk hal-hal yang secara sadar atau tak sadar oleh banyak orang diabaikan dan disingkirkan. Dalam upaya menghadirkan ulang “realitas” ke dalam layar, ketiga puluh dua film ini pun tidak tergelincir pada jebakan pelanggengan stereotip dan stigma.

Film-film cerita pendek ini dengan kelugasan bertuturnya “memprovokasi” terciptanya ruang-ruang diskusi atas berbagai isu yang kerap alpa tersoroti akibat hiruk-pikuknya pandemi. Pandemi adalah persoalan besar, tapi jelas bukan satu-satunya. Pandemi, di saat bersamaan, mengamplifikasi setumpuk masalah yang sebelumnya bak api dalam sekam. Pandemi memaksa kita berkaca, dengan menempatkan film-film cerita pendek ini sebagai cerminnya, bahwasanya ada “gajah di pelupuk mata”. Meski tragedi selalu menerbitkan kegetiran dan melukai kemanusiaan, film-film cerita pendek ini sekaligus pula menyiratkan bahwa di ujung lorong gelap, ada cahaya. Harapan ini tidak hanya nampak melalui kisah-kisah yang diangkatnya, melainkan juga melalui asa yang dibawa oleh keberadaan medium film cerita pendek ini sendiri. Bahkan di tengah himpitan pandemi, film-film cerita pendek ini (justru) hidup.

Selanjutnya, dengan pisau analisis yang kian dipertajam, kami berikhtiar untuk mendapatkan lima film terbaik dari tiga puluh dua besar tahapan seleksi awal. Dalam membedah setiap film, kami bertiga saling bertukar argumen: mengapa suatu film mesti dipilih dan sebaliknya, mengapa sebuah film belum saatnya terpilih. Setelah melalui diskusi-diskusi yang berlangsung lebih dari dua kali pertemuan virtual, terpilihlah lima film: Laut Memanggilku (sutradara: Tumpal Tampubolon), Lika Liku Laki (sutradara: Khozy Rizal), Kisah Cinta dari Barat (sutradara: M. Reza Fahriansyah), Dear to Me (sutradara: Monica Vanesa Tedja), dan Sedina (sutradara: Bertrand Valentino). Kelima film ini tidak hanya memukau lewat pencapaian sinematik dan membenamkan kami dalam kisahnya, tetapi juga berhasil mencukil nurani kami sebagai penonton. Bahkan ketika film telah tuntas ditonton, benak kami masih riuh akibat “dirongrong” oleh aneka pertanyaan dan keresahan.

Adapun hal lain yang kami catat dalam proses pengkurasian—sejak awal hingga melahirkan lima nomine—adalah mengenai eksistensi sineas perempuan. Sebagaimana yang tercermin dalam film 32 besar dan 5 nomine, jumlah sutradara perempuan masih relatif minim. Fenomena ini memicu refleksi lebih lanjut: mengapa demikian? Sebuah pertanyaan yang menjadi “pekerjaan rumah” untuk kita pikirkan bersama.

Perjalanan mengurasi film cerita pendek untuk FFI 2021 ini adalah pengalaman istimewa yang sudah mempertemukan kami dengan beraneka “wajah” manusia Indonesia dengan masing-masing kisahnya, khususnya di masa krusial akibat pandemi ini. Kami mengucapkan terima kasih kepada semua sineas—terlepas dari apakah filmnya terpilih atau tidak—yang melalui karyanya sudah bersedia membagikan pandangannya tentang dunia kepada penonton, serta membuat kami merefleksikan banyak hal.

 

Salam,

Gayatri Nadya – Gorivana Ageza – Panji Mukadis

Juri Nominasi FFI 2021 Kategori Film Cerita Pendek

Bagikan: