Catatan Dewan Juri Akhir FFI 2021 - Film Animasi
13 Nov 2021

Catatan Dewan Juri Akhir FFI 2021 - Film Animasi

Festival Film Indonesia 2021 mengangkat tema baru, yaitu Sejarah Film, Media Baru, di masa pandemi tahun kedua yang membuat para sineas harus berusaha terus berkarya di tengah pandemi yang tak kunjung usai. Begitu pula dengan kategori Film Animasi tahun ini, seperti produksi animasi panjang di masa pandemi memang cukup rumit dan sulit, tapi apresiasi setinggi-tingginya untuk para sineas animasi yang tetap bisa memproduksi karya hingga menayangkannya di era yang "baru" ini. Karya film animasi panjang yang masuk pada tahun ini jumlahnya tergolong meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Dari sini, kita bisa melihat bahwa terjadi pertumbuhan di bidang animasi dari sisi sumber daya manusia sehingga dapat menghasilkan karya yang baik dari aspek teknis, dari sisi jumlah perusahaan atau studio yang karyanya masuk ke database FFI, dan yang terpenting juga tumbuhnya kepercayaan berinvestasi di bidang animasi yang memberikan peluang kepada para kreator lokal untuk berkarya ke depannya.

Jika melihat karya-karya animasi dari peserta FFI 2021, ini menunjukkan perkembangan dunia animasi Indonesia yang signifikan. Setelah berhasil mencapai kualitas teknis di beberapa tahun terakhir, kini pelaku animasi Indonesia sudah mulai menunjukkan capaian kreativitas yang sangat baik. Ini menandakan bahwa dunia animasi Indonesia terus berkembang dan bereksplorasi. Selanjutnya, meskipun terlihat adanya perkembangan dari aspek teknis animasi, beberapa karya masih menggunakan pendekatan "ala sinetron", dengan visualisasi yang sebetulnya cukup direalisasikan dengan kamera shooting tanpa perlu dibuat animasinya. Esensi animasi yang bisa melampaui kemampuan kamera film, yaitu imajinasi dan ilusi yang tidak hadir di dunia nyata, belum banyak hadir.

Tahun ini, Nussa adalah karya animasi yang terpilih sebagai pemenang di kategori Film Animasi Panjang karena bisa memenuhi segala aspek komponen penilaian yang harus dimiliki oleh sebuah karya animasi. Nussa dari sisi teknis sangat baik, didukung dengan penceritaan yang sesuai dengan target penonton. Nussa memberikan standar baru dalam menyajikan animasi di layar bioskop. Alur cerita, produksi animasi hingga marketing filmnya. Meskipun template film animasi salah satunya adalah menggunakan alih suara dari artis terkenal agar lebih percaya diri, film Nussa membuktikan hal tersebut cukup hadir di pemeran tambahan, karena pemeran utama sudah "berkarakter" dan mengakar sebelum versi layar bioskop ini hadir tanpa alih suara bintang populer. Perpaduan teknik 2D dan 3D cukup berani dilakukan dan hal ini memberikan nilai plus. Harapan dari pemenang film animasi adalah bahwa karya tersebut sebagai tolok ukur kemajuan dunia animasi Indonesia, secara capaian kreativitas dan capaian teknis. Tentu tidak melupakan juga sebagai tolok ukur dunia industrinya. Pemenang kategori Film Panjang Animasi memiliki potensi tersebut. Sehingga kita berharap ke depannya, para pelaku animasi Indonesia mengejar capaian tersebut, bahkan lebih.

Selain itu, kategori Film Animasi Pendek pun tak kalah memberikan kejutan dengan keragaman penyajian animasi yang hadir sebagai nominasi kali ini. Mulai dari ala anime hingga 3D realistis, produksi tim profesional hingga one man show dari seniman jenjang SMA. Cara tutur yang berbeda-beda, lewat horor hingga sudut pandang serigala, membuat Dewan Juri Akhir cukup sulit untuk memilih. Hal yang menarik lainnya dari pendaftar film-film animasi pendek FFI tahun ini adalah semakin banyak kreator yang terlihat memanfaatkan kekuatan medium animasi dalam menceritakan sebuah konsep atau ide, dengan bahasa yang berbeda dari film live-action. Selanjutnya, dengan semakin beragamnya genre juga menegaskan bahwa kreator film animasi di Indonesia semakin memahami bahwa animasi bukanlah genre. Ia adalah medium yang bisa menceritakan genre apa saja. Dengan beragam gaya artistik, pendekatan tutur visual, serta format yang disajikan membuat Dewan Juri Akhir optimis bahwa animasi di Indonesia akan berkembang ke arah yang eksploratif dan sangat baik.

Berdasarkan penjelasan di atas, pemenang kategori Film Animasi Pendek FFI 2021 berjudul Ahasveros ini memanfaatkan medium animasi untuk menceritakan kepingan peristiwa sejarah hidup seseorang yang penting di Indonesia, dengan bahasa film yang bisa menyajikan bukan hanya fakta kejadian, tapi juga penggambaran rasa yang membuat kita bisa lebih menyelami peristiwa yang dituturkan. Pendekatan animasi, spesifiknya dengan gaya ini, hampir belum pernah terlihat dipilih untuk menceritakan sejarah di Indonesia. Tempo yang bernafas, pemilihan warna monokrom, lalu guratan animasi 2D (gambar tangan kreator) membuat bahasa sinema yang ditawarkan memiliki ciri khas yang begitu kuat dan personal di karya ini. Selain itu, kita seperti melihat dan menyimak sejarah dengan cara nyeleneh. Kesederhanaan dalam sajian warna, hitam putih membuat karya ini terlihat mahal dan berbeda. Penonton terasa dibawa ke era perjuangan sang tokoh utama yang penuh dengan emosi getir, kelam, dan tidak happy ending. Selain itu, khusus untuk pemenang film animasi pendek juga memiliki kekuatan yang ada pada unsur sinematiknya, baik secara cerita maupun eksekusi. Sehingga ini akan menjadi tolok ukur film-film animasi pendek ke depannya. Bahwa eksplorasi ide dan teknis adalah tempatnya di film animasi pendek.

 

Salam,

Chandra Endroputro – Daryl Wilson – Ryan Adriandhy – Wahyu Aditya

Dewan Juri Akhir FFI 2021

Kategori Film Animasi

Bagikan: