Catatan Dewan Juri Akhir FFI 2021 - Film Cerita Pendek
12 Nov 2021

Catatan Dewan Juri Akhir FFI 2021 - Film Cerita Pendek

Film cerita pendek senantiasa menjadi medium bagi eksplorasi dan eksperimentasi pembuatnya. Kendati durasinya terbilang singkat, film cerita pendek justru mampu menangkap momen penting atau snapshot dari kehidupan manusia yang kompleks.  Film cerita pendek Indonesia selalu bisa menjadi ruang untuk melongok proses pergulatan pembuatnya dalam meluahkan gagasan maupun responnya terhadap dunia yang mengitarinya. Inilah kesan yang mencuat saat menyaksikan film cerita pendek yang menjadi unggulan Festival Film Indonesia (FFI) 2021.

Ada lima film cerita pendek yang menjadi unggulan dalam FFI 2021, yakni Kisah Cinta dari Barat, Sedina, Dear to Me, Laut Memanggilku, dan Lika Liku Laki. Dari kelima film cerita pendek itu, hanya film Dear to Me yang disutradarai perempuan (Monica Vanesa Tedja), empat film lainnya disutradarai oleh laki-laki.  Ini menunjukkan masih perlu lebih banyak perempuan berkiprah sebagai sutradara film cerita pendek Indonesia, kendati beberapa perempuan telah menduduki posisi sebagai produser atau penulis skenario. Dengan demikian, kita bakal menyaksikan lebih banyak perspektif perempuan mewarnai film cerita pendek Indonesia.

Tiga film (Kisah Cinta dari Barat, Sedina, dan Lika Liku Laki) menggunakan dialek dan bahasa lokal (daerah), dua film lainnya (Dear to Me dan Laut Memanggilku) menggunakan bahasa Indonesia meski kadang diselingi ungkapan lokal. Lewat tuturan bahasa lokal, ketiga film itu lebih mampu membangun atmosfer yang khas tempat cerita berlangsung serta menyisipkan elemen lokalitas atas tema yang diangkat. Selain itu, dengan menggunakan bahasa lokal, mereka yang bukan aktor profesional lebih mampu memperagakan seni peran yang akrab dengan kesehariannya.

Sementara itu, dilihat dari sisi tematik, film Lika Liku Laki dan Dear to Me mengangkat pergulatan identitas gender (maskulinitas) dan seksualitas, sedangkan film Sedina dan Laut Memanggilku menyelami sosok kanak-kanak sekaligus tempat mereka tumbuh. Film Kisah Cinta dari Barat mengulik dampak proyek pembangunan yang menyisihkan penduduk setempat. Dari kelima film unggulan tersebut, hanya film Sedina yang menempatkan pandemi COVID-19 sebagai latar ceritanya. Kenormalan baru karena pandemi ditunjukkan film ini lewat pembelajaran daring (online), kebiasaan baru selalu mencuci tangan dan ikhtiar menghindari kerumunan di tempat publik. Agaknya, sebagian besar film cerita pendek yang masuk unggulan ini tak menjadikan pandemi sebagai ilham maupun latar bagi kisah yang dijalinnya.

Menarik, menilik narasi unik yang diusung oleh masing-masing nominasi film cerita pendek tahun ini. Kisah Cinta dari Barat yang disutradarai oleh M. Reza Fahriansyah mampu menangkap snapshot relasi romantis dengan latar berdirinya bandar udara internasional yang menjanjikan pekerjaan bagi penduduk setempat. Lewat percakapan yang sederhana dan kadang mengundang senyum simpul, film ini seperti menyodorkan benturan antara mimpi (tentang pekerjaan) dan kenyataan pahit yang mesti dihadapi oleh tokoh-tokohnya. Kekuatan dari film ini antara lain terletak pada percakapan yang terkesan mengalir, spontan dan tanpa pretensi. Film ini menunjukkan kegetiran yang mesti ditelan oleh penduduk setempat karena janji yang diingkari oleh sebuah proyek pembangunan menyelinap ke dalam relasi dua sejoli yang penuh keintiman.

Sedina karya Bertrand Valentino mampu membabar persoalan sederhana dengan latar pandemi COVID-19, yakni pembelajaran daring pada siswa yang tinggal di wilayah pedesaan. Lewat film ini, penonton bisa menyimak peliknya masalah yang dihadapi seorang anak ketika ia mesti bisa mengkompromikan antara penugasan yang dilakukan oleh guru dengan pekerjaan yang dibebankan oleh orang tua. Menggunakan sepenuhnya bahasa lokal, film ini mampu menghadirkan suasana pedesaan dan nilai-nilai yang dihidupi oleh warganya.

Monica Vanesa Tedja lewat Dear to Me berhasil mengangkat pergulatan identitas seksual yang kerapkali berbenturan dengan konservatisme agama yang masih melihat orientasi seksual yang berbeda sebagai hal yang ‘tidak normal’ dan ‘tidak sempurna’.  Melalui gambar-gambar yang puitis, film ini seakan hendak memasuki relung batin karakter yang tengah mengalami pergulatan itu di tengah tekanan keluarga dan iman yang diyakininya. Seperti legenda lokal yang diangkat film ini, ikhtiar mengungkapkan orientasi seksual yang jujur seakan hanya mungkin di alam mimpi karena dunia nyata acap menjadi penghalang. Jauh dari kesan mengkhotbahi, film ini mengajak penonton berempati terhadap situasi yang tengah dihadapi oleh karakter utamanya.

Film Laut Memanggilku besutan Tumpal Tampubolon menyentil secara halus temuan boneka di perkampungan nelayan yang pernah menghebohkan pemberitaan media di Indonesia. Rasa kesepian seorang anak yang menunggu kedatangan ayahnya yang tengah melaut dan absennya sosok ibu menemukan penggantinya pada boneka itu. Pendekatan realisme ala film dokumenter yang digunakan film ini mampu menangkap kemiskinan dan kekumuhan kampung nelayan serta nasib anak-anak di perkampungan itu. Akhir film ini menyodorkan kejutan yang menyentuh rasa welas asih kita.

Sementara itu, film Lika Liku Laki karya Khozy Rizal mengangkat isu yang jarang diangkat di Indonesia, yakni intimidasi sosial, maskulinitas beracun (toxic masculinity) yang secara frontal dibenturkan dengan budaya masyarakat. Yakni, budaya remaja pecinta sepak bola di Makassar, walaupun secara umum bisa terjadi di mana saja di Indonesia. Film ini seperti membangunkan kita dari mimpi, untuk mulai berpikir ulang tentang eksistensi diri kita. Refleksi yang muncul menyibukkan kita dengan berbagai pertanyaan mendasar, siapakah kita, di mana kita berada, dan apa yang bisa kita lakukan. Ada rasa getir yang tertinggal setelah film ini selesai.

Dalam rapat akhir Dewan Juri Akhir Kategori Film Film Cerita Pendek terjadi perdebatan cukup panjang mengenai dua film pendek: Lika Liku Laki dan Laut Memanggilku. Akhirnya, rapat deliberasi dewan juri memutuskan pemenangnya adalah Laut Memanggilku karya Tumpal Tampubolon. Dalam film ini, Tumpal Tampubolon tak hanya berhasil membuat penonton bersimpati pada karakternya, tapi juga membangkitkan sensibilitas penonton terhadap lingkungan tumbuh yang tak sepenuhnya ramah pada anak-anak. Tanpa terjebak ke dalam pendekatan yang melankolis, film ini justru menunjukkan rasa welas asih yang masih tumbuh pada kanak-kanak di saat mereka tak mendapatkan dari kedua orang tuanya yang nyaris absen dalam keseharian mereka. Selain itu, film ini terhindar dari kecenderungan verbalisme dalam bercerita karena menggunakan dialog yang minimal tapi mampu mendayagunakan bahasa visual nan memikat.  

Menarik dicatat, Lika Liku Laki menawarkan pengalaman yang berbeda. Film ini membangunkan kita dari mimpi, untuk mulai berpikir ulang tentang eksistensi diri kita. Refleksi yang muncul mampu menyibukkan kita dengan berbagai pertanyaan mendasar, siapakah kita, di mana kita berada, dan apa yang bisa kita lakukan. Dewan juri memutuskan untuk memberikan penghargaan khusus atas capaian yang diraih oleh Lika Liku Laki. Harapan kami semoga semakin banyak gagasan orisinal dan beragam terus berkembang untuk film cerita pendek di tahun-tahun berikutnya.

Dari 386 jumlah film cerita pendek yang mendaftar, demikianlah kelima film cerita pendek unggulan FFI tahun ini, tak hanya menawarkan keragaman artistik dan tematik, tapi juga mampu mengulik pelbagai persoalan kita hari ini. Film cerita pendek merupakan sebentuk ajakan untuk melakukan percakapan. Dan, kita tahu, topiknya selalu di luar dugaan. Karena itu, lewat narasinya, film cerita pendek senantiasa menantang keberanian kita menghadapi persoalan kita hari ini. Selamat untuk seluruh nominasi dan pemenang!

 

Salam,

Ajeng Parameswari - Budi Irwanto - Edo Wulia

Dewan Juri Akhir FFI 2021 Kategori Film Cerita Pendek

 

Bagikan: